Melalui jaringan backlink yang kami miliki merupakan penyedia jasa backlink menerima berbagai backlink Indonesia dengan layanan jasa backlink murah yang kami kelola secara manual dan profesional. Kami menawarkan jasa backlink terbaik. Bagaimana cara membeli backlink dari kami?. Silahkan 👉 Hubungi Kami! harga sangat terjangkau!

Content Placement

Berikut adalah daftar 50 situs Jaringan Backlink kami!
01. Backlink Indonesia 26. Iklan Maluku Utara
02. Backlink Termurah 27. Iklan Nusa Tenggara Barat
03. Cara Membeli Backlink 28. Iklan Nusa Tenggara Timur
04. Iklan Aceh 29. Iklan Online Indonesia
05. Iklan Bali 30. Iklan Papua
06. Iklan Bangka Belitung 31. Iklan Papua Barat
07. Iklan Banten 32. Iklan Riau
08. Iklan Bengkulu 33. Iklan Semesta
09. Iklan Dunia 34. Iklan Sulawesi Barat
10. Iklan Gorontalo 35. Iklan Sulawesi Selatan
11. Iklan Internet 36. Iklan Sulawesi Tengah
12. Iklan Jakarta 37. Iklan Sulawesi Tenggara
13. Iklan Jambi 38. Iklan Sulawesi Utara
14. Iklan Jawa Barat 39. Iklan Sumatra Barat
15. Iklan Jawa Tengah 40. Iklan Sumatra Selatan
16. Iklan Jawa Timur 41. Iklan Sumatra Utara
17. Iklan Kalimantan Barat 42. Iklan Terbaru
18. Iklan Kalimantan Selatan 43. Iklan Yogyakarta
19. Iklan Kalimantan Tengah 44. Jaringan Backlink
20. Iklan Kalimantan Timur 45. Jasa Backlink
21. Iklan Kalimantan Utara 46. Jasa Backlink Murah
22. Iklan Kepulauan Riau 47. Jasa Backlink Terbaik
23. Iklan Lampung 48. Jasa Backlink Termurah
24. Iklan Link 49. Media Backlink
25. Iklan Maluku 50. Raja Backlink

Kami jaringan backlink sebagai media backlink bisa juga menerima content placement yakni jasa backlink termurah kami di dalam artikel. Pesan segera jasa backlink termurah ini. Karena kami adalah raja backlink yang sebenarnya!

Peluang Agen Iklan Online
Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan

Kenapa Jokowi suka sekali membangun tol?

Info informasi Kenapa Jokowi suka sekali membangun tol? atau artikel tentang Kenapa Jokowi suka sekali membangun tol? ini semoga dapat bermanfaat, dan menambah wawasan. Selamat Membaca! Jangan lupa dishare juga! Jika merasa artikel ini bermanfaat juga untuk orang lain.
Hay Sahabat Bitter, kali ini Bitter Coffee Park akan mengajak Kalian Ngobrol ala Obrolan Warung Kopi tentang: 
Kenapa Jokowi suka sekali membangun tol?
Berkaca dari Dwight D. Eisenhower, bekas jenderal kawakan Amerika Serikat.

Beliau menjadi �paman� bagi banyak orang Amerika, figur pemimpin yang dapat didekati oleh semua orang karena sikapnya yang penuh keterbukaan.

Meskipun pernah menjabat presiden, Eisenhower kalah populer dibanding tokoh kompatriot kharismatik sezamannya. Sebut saja Roosevelt dan Kennedy.

Namun ada satu catatan menarik dari kepemimpinan Eisenhower selama beliau menjabat sebagai presiden Amerika Serikat. Catatan itu bernama U.S. Interstate Highway, sebuah mega-proyek infrastruktur jalan bebas hambatan.

Bukan proyek jalan tol biasa, tentu saja. Ini adalah proyek yang mengubah wajah Amerika Serikat dalam waktu setengah abad berikutnya.

Proyek infrastruktur ini mengiris-iris Amerika Serikat dari tepi selatan sampai ke papar utara, dari barat sampai ke timur, semuanya dengan jalan bebas hambatan melintang membujur menyisir tanah Amerika kotak-kotak ibarat tempe. Panjang jalannya sekarang mencapai 77.000kilometer, alias sepadan dengan dua keliling lingkaran planet bumi melalui garis khatulistiwa.

Sebelumnya tidak pernah ada presiden yang mempunyai mimpi sebesar ini.

Jangan pernah membayangkan bahwa Amerika Serikat dulu adalah negara yang mempunyai infrastruktur yang megah seperti sekarang. Sebelum tahun 1956, tak seluruh Amerika terhubung oleh infrastruktur jalan yang pantas. Berbagai sudut negara bagian terutama di kawasan tengah negara tersebut terisolasi, menunggu keterbukaan akses yang pembangunannya berjalan sedikit demi sedikit.

Namun tentu saja semua jalan raya yang luas mulus itu tidak turun dari langit.

Harus ada yang membangunnya.
Di sinilah Eisenhower berperan mengubah wajah Amerika.

Tidak mudah. Kita bicara perihal Amerika Serikat, sebuah negara dengan hampar daratan lima kali lebih luas daripada daratan Indonesia, bukan negara yang kecil layaknya Singapura atau Hong Kong.

Tentu saja ide gila tersebut tidak begitu saja diterima, biayanya luar biasa.

Harus ada yang berani berinvestasi. Harus ada yang berani rugi di depan.

Namun Eisenhower begitu cerdas memanfaatkan keadaan. Amerika Serikat baru menuntaskan Perang Dunia II, kondisi masyarakat kala itu penuh dengan gejolak patriotisme serta paranoia. 

Sang presiden berargumen, meyakinkan senat, bahwa:
Apabila suatu saat nanti Amerika Serikat diserbu oleh musuh, maka adanya suatu infrastruktur jalan yang menjangkau seluruh ujung negeri adalah penting untuk menunjang kelancaran logistik militer. 
Lebih cepat dibangun, lebih baik.

Palu diketuk. Senat menyetujui mega-proyek ini demi pertahanan negara.

Peta Amerika dibentangkan dan negara besar ini diiris-iris dengan sambungan jalan beraspal nan lebar-lebar yang mampu mengakomodasi tidak hanya mobil, tetapi kendaraan-kendaraan khas militer. 

Proyek mahabesar ini dimulai di setiap sudut Amerika Serikat secara serentak, untuk seluruh negara bagian. 

Tanpa peduli apa negara bagian tersebut miskin atau kaya, apakah warganya orang Protestan atau Katholik, apakah yang menang Partai Demokrat atau Partai Republik:
Apakah itu berbatasan dengan Samudera Pasifik atau dengan Samudera Atlantik, semuanya diperlakukan sama?
Semua negara bagian Amerika Serikat diperlakukan dengan setara, sama rata:
Memperoleh jatah infrastruktur jalan.

Inilah proyek infrastruktur terbesar pada abad ke-20.
Bagaimana mereka mendanai semua ini?
Kala itu perang baru saja usai, Amerika Serikat sedang mengalami ketidakpastian ekonomi dunia. 

Meskipun relatif kaya, Amerika Serikat saat itu belum cukup kaya mendanai mega-proyek sebesar ini. Dana APBN tidak akan cukup.

Tetapi Eisenhower tidak pernah kehabisan akal.

Maka dari itu dirilislah Highway Trust Fund (HTF), Pemerintah Amerika Serikat membuka kucuran dana dari investasi masyarakat, dari pajak, dan tentu saja dari kenaikan harga bensin. 

Ibarat Indonesia memangkas seluruh subsidi BBM untuk dijadikan penopang dana infrastruktur, inilah strategi bisnis yang dilakukan oleh pemerintahan Eisenhower pada waktu itu. 

Bukan memangkas subsidi, tapi harga bensin dinaikkan dan seluruh keuntungan menjadi dana infrastruktur.

U.S. Interstate Highway tidak hanya menjembatani sudut-sudut Amerika, namun mengubah total wajah Amerika. Inilah The Nationwide Fabric, atau yang sering diucapkan oleh Anies Baswedan dengan istilah Tenun Kebangsaan

Inilah wujud tenun fisik yang mengikat Amerika Serikat menjadi satu kesatuan bangsa.

Kelancaran pergerakan masyarakat adalah:
Salah satu kunci kemakmuran, pembangunan jalan adalah salah satu cara mencapainya. 
(Rose, 1979)

Kota-kota �shanty� ala koboi yang senyap perlahan berdenyut, mengalami banyak modernisasi menjadi kota urban modern, seperti:
  1. Pusat-pusat permukiman di pinggir rel kereta api perlahan meredup digantikan oleh pusat-pusat ekonomi baru di seluar interchange jalan tol. 
  2. Kargo-kargo dapat menjangkau semua sudut negara bagian dengan lebih predictable.
  3. Pusat-pusat industri serta manufaktur tumbuh dengan memanfaatkan keberadaan akses jalan.
  4. Kawasan-kawasan industri bertumbuh di sepanjang wilayah Amerika Serikat, industri kendaraan tumbuh pesat.
  5. Konsumsi masyarakat menanjak secara konsisten beberapa tahun berikutnya. 
  6. Infrastruktur jalan tol ini menggerakkan pertumbuhan ekonomi masyarakat Amerika, menjadi negara adidaya yang makin kencang berlari meninggalkan pesaing-pesaingnya.
Beberapa puluh tahun kemudian tol-tol yang investasinya telah balik modal pun sekarang sudah digratiskan, bahkan hanya tersisa sedikit yang masih berbayar.
Sepanjang 40 tahun pertama U.S. Interstate Highway ini berdiri, prestasinya pun bukan main-main:
Menyelamatkan nyawa lebih dari 187.000 jiwa.
  1. Mengurangi kecelakaan lebih dari 12 juta jiwa, dibanding jalan biasa.
  2. Meningkatkan kualitas hidup rakyat Amerika.
  3. Memberi manfaat ekonomi $6 untuk setiap ongkos $1, enam kali lipat.
  4. Menunjang pertumbuhan ekonomi Amerika selama puluhan tahun.
  5. Mengikat persatuan antar negara bagian di Amerika Serikat.
  6. Meningkatkan nilai kompetitivitas Amerika Serikat, dan banyak lagi.
Bagi siapapun yang sudah sempat mengunjungi Amerika Serikat, tentu mengerti bagaimana ekonomi Amerika Serikat menjadi yang terbesar di duniabertopang kepada infrastruktur mereka yang kapabel, yang terintegrasi, yang menasional.

Ketika infrastruktur layak, mobilitas bukan lagi hambatan pertumbuhan.

Mengapa Bitter Coffee Paek bercerita tentang Amerika Serikat?
Karena Bitter Coffee Paek tidak ingin berangan-angan tentang apa saja yang bisa diraih dengan pembangunan jalan tol. 

Akan jauh lebih baik kita melihat ke contoh yang saat ini terpampang sudah jelas-jelas ada.

Indonesia bisa seperti itu, mengikuti pola yang sudah ada.

Tidak ada gunanya kita berangan-angan apa manfaat jalan tol dan lain-lain. 

Sahabat Bitter maupun Bitter Coffee Park cuma perlu melihat bagaimana jaringan jalan raya mengubah wajah negara terbesar di dunia, Amerika Serikat dan China. 

Menjelaskan tentang fungsi ataupun manfaat jalan tol bisa jadi perdebatan politis, kita cukup memahami saja bagaimana negara-negara maju telah lebih dahulu melakukannya.

Panjang jalan tol di Indonesia saat ini setara dengan panjang jalan tol di Hungaria, sebuah negara Eropa Tengah yang luasnya setara luas provinsi Riau. 

Masih sangat kurang tentu saja, yang berarti pembangunan tol adalah sebuah keniscayaan.
Segala perdebatan yang menyatakan jalan tol tidak penting adalah statemen yang dilontarkan orang-orang yang hanya sanggup melihat Indonesia dua tiga tahun ke depan, bukan tiga puluh empat puluh tahun ke depan, short-sighted.

Pembangunan infrastruktur memang harus prudent. Tetapi untuk kasus jalan tol Lintas Jawa, Lintas Sumatra, Manado-Bitung, Samarinda-Balikpapan, itu semua masih masuk kategori no-brainer. Jelas-jelas ada kebutuhan.

Bitter Coffee Parm sering bercerita bahwa ekonomi itu dhingklik, atau istilah Jawa untuk bangku berkaki tiga. 

Ketiga kakinya harus seiring sejalan:
  • Investasi
  • Infrastruktur
  • Konsumsi
Jokowi belum berhasil di poin ketiga, yaitu mendongkrak daya beli. 

Tetapi bukan berarti kita harus menyalahkan infrastruktur. Justru jangan sampai suatu waktu daya beli masyarakat kembali meningkat, infrastruktur kita tidak mampu menopang dua kaki yang lain sehingga dhingklik ini terjengkang.
Infrastruktur adalah long-ball game, manfaatnya hanya bisa diraih dalam jangka panjang. 

Berpikir untuk jangka pendek-pendek, bekerja setengah-setengah, atau enggan bersakit-sakit dahulu (berani rugi) demi masa depan nan lebih baik tidak membawa Indonesia ke mana-mana.

Mengapa jalan tol? 
Karena dibutuhkan konektivitas lancar bebas hambatan.

Bagaimana dengan jalan biasa? 
Tetap dibangun juga dengan skala pembangunan sama besarnya. 

Jadi keduanya sama-sama penting dan sama-sama dibangun.
Baca:
  • Mana yang lebih penting tol atau jalan desa? 
  • Dari mana dana pembangunannya? 
  • Apakah kita masih hutang ke negara sini atau negara situ? 
Itu semua pertanyaan yang lain lagi, bisa panjang membahasnya. Bitter Coffee Park fokus ke pertanyaan ini saja.

Indonesia telah bergerak cepat, keberadaan infrastruktur merupakan kebutuhan penting yang selama ini menjadi hambatan mencapai kemakmuran. Barangkali banyak di antara kita yang tidak menyadari, namun di dalam waktu enam tahun, sejauh inilah kita telah berlari.
Dan enam tahun kemudian, berkat pembangunan yang masif, infrastruktur dari negara ini setara Thailand. 

Hanya kalah dari Singapura dan Malaysia. 
Bayangkan sejauh mana Indonesia akan melangkah pada tahun 2024.
Dan Bitter Coffee Park yakin seluruh pemimpin negara ini pun sebenarnya menyadari bahwa pembangunan infrastruktur adalah salah satu masalah utama yang wajib untuk menjadi fokus pembangunan Indonesia saat ini.

Termasuk di dalamnya, jalan tol.
Jadi apabila ada yang bertanya kenapa Jokowi suka sekali membangun jalan tol, sebenarnya siapapun presidennya, mereka pasti menyadari bahwa infrastruktur jalan tol di Indonesia masih sangat kurang sehingga perlu dibangun pada skala besar-besaran. Siapapun presidennya, asal masih waras, pasti berpikiran sama.

Pertanyaannya adalah seberapa besar ambisi mereka mewujudkannya.

Dan layaknya Eisenhower, Jokowi punya ambisi mewujudkan itu.

Bacaan Lanjut :


Demikian artikel tentang Kenapa Jokowi suka sekali membangun tol? ini dapat kami sampaikan, semoga artikel atau info tentang Kenapa Jokowi suka sekali membangun tol? ini, dapat bermanfaat. Jangan lupa dibagikan juga ya! Terima kasih banyak atas kunjungan nya.

Apa yang akan terjadi jika Prabowo terpilih sebagai presiden?

Info informasi Apa yang akan terjadi jika Prabowo terpilih sebagai presiden? atau artikel tentang Apa yang akan terjadi jika Prabowo terpilih sebagai presiden? ini semoga dapat bermanfaat, dan menambah wawasan. Selamat Membaca! Jangan lupa dishare juga! Jika merasa artikel ini bermanfaat juga untuk orang lain.
Hay Sahabat Bitter, kali ini Bitter Coffee Park akan mengajak Kalian Ngobrol ala Obrolan Warung Kopi tentang:
Apa yang akan terjadi jika Prabowo terpilih sebagai presiden?
Pemilihan Umum 2019 talah kita lewati, dan kita tinggal melihat hasil dari KPU pada tanggal 22 Mei 2019 nanti. Walaupun hasil Quick Count telah memenangkan Kubu No. 1 tetapi kubu No. 2 menyatakan diri sebagai penoreh suara terbanyak. Namun:
Apa yang akan terjadi jika Prabowo terpilih sebagai presiden?
Ini pertanyaan sederhana tetapi sulit dijawab.

Bagi Bitter Coffee Park, Prabowo adalah sosok yang pragmatisme.

Apa itu Pragmatisme?
Pragmatisme adalah aliran filsafat yang mengajarkan bahwa yang benar adalah segala sesuatu yang membuktikan dirinya sebagai yang benar dengan melihat kepada akibat-akibat atau hasilnya yang bermanfaat secara praktis.

Dengan demikian, bukan kebenaran objektif dari pengetahuan yang penting melainkan bagaimana kegunaan praktis dari pengetahuan kepada individu-individu.

Dasar dari pragmatisme adalah logika pengamatan, di mana apa yang ditampilkan pada manusia dalam dunia nyata merupakan fakta-fakta individual, konkret, dan terpisah satu sama lain.

Dunia ditampilkan apa adanya dan perbedaan diterima begitu saja.

Representasi realitas yang muncul di pikiran manusia selalu bersifat pribadi dan bukan merupakan fakta-fakta umum.

Ide menjadi benar ketika memiliki fungsi pelayanan dan kegunaan.

Dengan demikian, filsafat pragmatisme tidak mau direpotkan dengan pertanyaan-pertanyaan seputar kebenaran, terlebih yang bersifat metafisik, sebagaimana yang dilakukan oleh kebanyakan filsafat Baratdi dalam sejarah.

Pragmatisme Prabowo 
Masalah terbesar dari pragmatisme Prabowo adalah kita tidak pernah tahu dia bakal bersikap pragmatis sejauh apa

Beberapa pandangan bahwa usaha memberikan uang pensiun kepada koruptor serta menyebut korupsi adalah oli pembangunan adalah salah satu cermin pragmatisme kubu Prabowo.

Prabowo mau bertindak sejauh merangkul koruptor untuk mewujudkan tujuan yang lebih besar. 

Bagi sebagian orang ini tentu tidak termaafkan, namun untuk sebagian orang ini punya tujuan akhir untuk mengembalikan aset negara.

Prabowo Akan Beri Koruptor Pensiun, KPK Tegaskan Zero Tolerance 
Pertanyaannya tentu saja, 
Sejauh mana Prabowo akan bersikap pragmatis?
Prabowo yang berasal dari keluarga Kristen telah bekerja sama dengan kaum ekstrimis. 

Mesin-mesin politik Prabowo juga selama lima tahun terakhir produktif menyerang pemerintah, mulai dari cara yang baik seperti:
  1. Menyajikan data sampai yang tidak etis seperti menebar fitnah;
  2. Rencana memberi uang pensiun kepada koruptor;
  3. Bekerja sama dengan religius ekstrimis; dan 
  4. Menyebarkan hoax hanyalah sedikit contoh.
Sebagai sosok pragmatis, Prabowo tidak menutup peluang untuk menghalalkan segala cara, mengubah haluan mendadak, hingga menjustifikasi apapun supaya mencapai tujuan yang lebih besar.

Meskipun belum tentu selalu selaras, sudut pandang ini bisa menjadi gambaran besar kira-kira akan seperti apa pemerintahan Prabowo nantinya.

Adik Prabowo: Kecuali Iblis, Anak Cucu PKI Pun Kami Terima Dukungannya
Mari menjawab pertanyaan ini.
  1. Apa yang akan dilakukan oleh kelompoknya pada waktu Prabowo nanti berhasil menjabat? 
  2. Apakah Prabowo akan bekerja sama dengan ekstrimis? 
  3. Atau malah di luar dugaan berbalik menghantam kelompok pro-khilafah yang selama ini telah banyak mendukungnya? 
  4. Menjadi pemimpin yang bhinneka? 
  5. Merangkul mantan simpatisan komunis? 
  6. Memberi kekuasaan lebih leluasa kepada TNI? 
  7. Atau justru memangkas kekuasaan TNI seperti pada zaman SBY? 
  8. Menculik dan membunuh kritikus, seperti yang ditakutkan lawannya? 
  9. Atau malah membangun kestabilan Republik Indonesia tercinta?
Jawabannya : 
Kita tidak pernah tahu.

Kebijakan berlandaskan pragmatisme tidak akan pernah bisa ditebak.

Ini menariknya. 
Kita melihat Prabowo yang selama bertahun-tahun politik tiada pernah dicirikan Islami tiba-tiba menggalang kekuatan dari kelompok Islam. 

Ini merupakan bukti bahwa Prabowo bisa berubah haluan tanpa terduga. 

Apalagi di Pilpres 2009, Megawati-Prabowo adalah capres nasionalis garis keras yang tidak menerima kelompok SBY yang kala itu didukung partai-partai religius semacam PAN, PKS, dan PPP. 
Jelas, Prabowo berasal dari �kubu seberang�.
Yang terakhir tentu saja memaafkan koruptor. 

Itu bagi Bitter Coffee Park adalah sinyal kuat bahwa kelompok Prabowo bertindak pragmatis tanpa limit etis, menjustifikasi segala cara asal tujuan tercapai.

Tunggu dulu, bukan berarti prinsip ini selalu negatif.
Apakah Indonesia membutuhkan pemimpin yang seperti ini? 
Itu kembali pada pemilih masing-masing. Bisa jadi memang iya dan bisa jadi tidak. Dalam beberapa tahap sejarah, pemimpin Tiongkok pun begitu pragmatis dan mereka sukses.

Jadi bukan tidak mungkin, Indonesia malah sukses.

Bagaimana dengan Jokowi?
Sementara itu di lain pihak, Jokowi sudah over-promise dan under-deliver.

Jokowi telah mengecewakan banyak pihak sebab dia berusaha untuk kompromi dengan segala golongan. 

Jokowi berpandangan populis dan akibatnya dia selalu goyang menghadapi tekanan dari berbagai pihak. 

Ketika rakyat minta A, Jokowi berusaha memenuhi A, pendukung minta B, Jokowi pun berusaha memenuhi B, demonstran minta C, Jokowi juga memenuhi C. 

Akibatnya pemerintahan beliau menjadi amburadul karena mengakomodasi terlalu banyak kepentingan.

Di luar pembangunan fisik, pemerintahan Jokowi berkualitas medioker.

Sementara terkait pembangunan fisik, Bitter Coffee Park mengapresiasi banyak pencapaian hasil kerja cepat Jokowi yang tidak pernah dicapai presiden sebelumnya.

Prabowo berada pada sisi lain spektrum.

Prabowo adalah sosok tidak terduga yang punya tujuan besar. Apapun jalan itu, Prabowo akan mengambilnya. Termasuk yang paling gila sekalipun asalkan itu membawanya ke tujuan akhir. The end justifies the means.
Lalu, Jokowi atau Prabowo yang lebih Pantas Menjadi PRESIDEN?
Terserah.

Sebagian orang memilih Jokowi karena he is the devil that you know, sementara pada sisi lain, Prabowo adalah the devil that you don�t know.

Menurut kata pepatah, better the devil you know than the one you don�t.
Pick your devil wisely.

Selamat menanti Hasil Pemilu 22 Mei 2019, siapapun Presidennya kelak, kita tetap INDONESIA.
?????


Demikian artikel tentang Apa yang akan terjadi jika Prabowo terpilih sebagai presiden? ini dapat kami sampaikan, semoga artikel atau info tentang Apa yang akan terjadi jika Prabowo terpilih sebagai presiden? ini, dapat bermanfaat. Jangan lupa dibagikan juga ya! Terima kasih banyak atas kunjungan nya.

Bagaimana Opini Politik Pilpres 2019 Didalam Pesta Demokrasi di Indonesia?

Info informasi Bagaimana Opini Politik Pilpres 2019 Didalam Pesta Demokrasi di Indonesia? atau artikel tentang Bagaimana Opini Politik Pilpres 2019 Didalam Pesta Demokrasi di Indonesia? ini semoga dapat bermanfaat, dan menambah wawasan. Selamat Membaca! Jangan lupa dishare juga! Jika merasa artikel ini bermanfaat juga untuk orang lain.
Hay Sahabat Bitter, kali ini Bitter Coffee Park akan mengajak Kalian Ngobrol ala Obrolan Warung Kopi tentang: 
Bagaimana Opini Politik Pilpres 2019 Didalam Pesta Demokrasi di Indonesia?

Rapuhnya Pesta Demokrasi di Indonesia
Demokrasi di Indonesia masih muda, namun patut dirayakan. Pileg dan Pilpres 2019 telah menjadi pesta demokrasi yang diikuti lebih dari 150 juta pemilih di seluruh negeri. Namun, kekuatannya masih rapuh, dan sektereniasme agama bisa mengguncang dan mengikisnya.

Demokrasi di Indonesia tampaknya selalu datang dengan harga tinggi. Setidaknya seratus petugas KPPS meninggal dunia saat menjaga tempat pemungutan suara (TPS) pada hari pemilu pekan lalu, dari penyebab seperti kepanasan dan kelelahan.

Pulau-pulau di Indonesia mengangkangi Khatulistiwa dan sebagian besar wilayahnya panas, setiap hari sepanjang tahun. Indonesia adalah rumah bagi 264 juta jiwa dan merupakan panggung untuk pemilu satu hari terbesar di dunia, yang sangat mengesankan dalam hal logistik.

Tujuh juta warga secara sukarela menjaga agar pemungutan suara berjalan lancar pada Rabu (17/4) lalu, di lebih dari 800.000 tempat pemungutan suara. Surat suara dibagikan ke daerah pinggiran melalui pesawat, kano, dan gajah. Para relawan TPS yang meninggal telah dijuluki secara lokal sebagai �martir demokrasi.

Pemilu di Indonesia disebut sebagai Pesta Demokrasi. Hari Pemilu adalah hari libur nasional dan jumlah pemilih secara rutin berada di atas 70 persen (pemilu 2019 mencapai 80 persen -red). Tampaknya mungkin bahwa dalam pemilu kali ini, para politisi yang paling mencontohkan kompetensi teknokratis dan retorika moderat akan menang sekali lagi.

CERITA PEMILIH PERTAMA BAGI KELAHIRAN 1998
Sebuah TPS telah didirikan di bawah tenda di halaman depan seorang konstituen, Wawan Hermawan, seorang mekanik perahu. Haikal (seorang pemilih pemula berusia 17 tahun, yang juga seorang sukarelawan) dengan bangga menunjukkan jarinya yang bertinta, yang menunjukkan bahwa ia telah memilih.

Ini adalah pemilu pertama di mana anak-anak seperti dia yang lahir sejak awal era demokrasi modern pada tahun 1998 dapat mengambil bagian.

Pemungutan suara telah dibuka pada pukul 8 pagi, dan pada pukul 14:00 seorang sukarelawan membacakan surat suara di mikrofon, menggunakan kata-kata �satu� atau �dua� untuk menunjukkan masing-masing dari dua kandidat pilpres, sementara yang lain secara sukarela membuka kertas suara besar untuk dilihat semua orang, dan orang ketiga menulis perolehan hasil di papan.

RED:
Satu� adalah untuk Jokowi, yang terpilih pada tahun 2014 sebagai presiden pertama Indonesia tanpa latar belakang militer. 
Dua� adalah untuk Prabowo Subianto, mantan jenderal dan pemimpin Gerindra, Partai Gerakan Indonesia Raya, yang menggunakan platform yang lebih populis dan konservatif.

Seorang sukarelawan selanjutnya membuat kopi dalam gelas plastik setelah makan siang; seseorang membagikan kue gula aren, dan yang lain menghibur anak-anak kecil. 

Sebagian besar pemilih di wilayah ini mendukung paslon oposisi Prabowo, dan sekelompok wanita yang lebih tua tertawa dan bertepuk tangan setiap kali suara untuk Prabowo dihitung. 

Ketika hasil pemungutan suara memenangkan petahana, mereka menghembuskan napas secara dramatis:  
Astaghfirullah!

HADI ASAN (Brigade 411)
Pada sore hari, seorang pemuda bernama Hadi Asan muncul di tempat pemungutan suara di Tebet dengan seragam gaya milisi merah dan hitam yang bertuliskan �Brigade 411� di jaketnya. 

Red:
Angka 411 mengacu pada 4 November, tanggal dari sebuah aksi massa Islamis besar pada tahun 2016. 

Hadi adalah alumni dari aksi itu dan aksi-aksi lainnya, dan ia menunjukkan ketahanan jaringan aktivis yang mereka hasilkan. Seragamnya juga terdiri dari peci hitam dan ikat pinggang kulit hitam lebar.

Kami hanya melakukan tanggung jawab kami, mengawasi untuk memastikan tempat pemungutan suara berjalan sesuai.
katanya. 

Dia telah memilih Prabowo lebih awal pada hari itu. 

Meskipun tampak samar-samar mengancam (setelah mengenakan seragam lengkapnya meskipun panas terik) dia masih tampak cukup ramah. 

Namun, kehadirannya mencerminkan kampanye Prabowo yang mengkhawatirkan kecurangan pemilu dan janjinya untuk melawan kemungkinan penyimpangan pemilu.

Suasana di TPS mendingin sekitar pukul 3 sore ketika penghitungan awal yang tersedia secara online menunjukkan kemenangan Jokowi. 

Hasilnya masih tidak resmi, berdasarkan jumlah yang tidak diverifikasi yang dihitung dari masing-masing TPS; hasil resmi dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) baru akan dirilis pada bulan Mei. 

Tetapi pada akhir hari, perhitungan awal menunjukkan bahwa Jokowi memang telah menang, dengan selisih sekitar 10 persen.

BIOGRAFI PETAHANAN
Presiden Indonesia Joko �Jokowi� Widodo saat mengendarai kereta MRT di Jakarta, sebuah proyek yang dimulainya sejak menjabat sebagai Gubernur Jakarta. 
(Foto: EPS)

Jokowi sering disebut sebagai orang yang halus. Ia muncul di Surakarta, sebuah kota kecil di Jawa Tengah, sebagai seorang penjual furnitur, kemudian menjadi Wali Kota Surakarta, kemudian diangkat menjadi Gubernur Jakarta, dan meluncur dari sana ke kursi kepresidenan. 

Secara fisik ia kurus, tetapi ia memiliki bakat untuk komunikasi yang jujur ??dan informal.

Selama Pilpres 2019, ia berkampanye untuk melanjutkan program masa jabatan pertamanya, di bawah taglineIndonesia Maju�. 

Dalam praktiknya, ini berarti memprioritaskan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan infrastruktur, juga peningkatan dalam layanan publik seperti pendidikan dan perawatan kesehatan.

Jokowi telah merayu investasi China dan berupaya meremajakan sumber daya alam seperti tambang emas Grasberg yang luas di provinsi Papua. 

Moderat dan berorientasi pasar, pendekatannya menarik bagi spektrum luas masyarakat Indonesia, dengan memberikan jaminan kemakmuran. 

Tetapi, kata para pengkritiknya, ia telah mengabaikan hak asasi manusia dan kebebasan sipil.

Petahana harus menjanjikan kontinuitas, tetapi calon wakil presiden Jokowi adalah sesuatu yang aneh. 

Meskipun Ma�ruf Amin memiliki beberapa tugas dalam politik, namun tugasnya yang terbaru adalah memimpin Majelis Ulama Indonesia (MUI) menjadikannya ulama Muslim terkemuka di Indonesia.

Sebagai seorang konservatif religius yang telah mengeluarkan fatwa terhadap orang-orang LGBTQ dan sekte minoritas Muslim seperti Syiah dan Ahmadiyah, serta menganjurkan sunat perempuan, Ma�ruf adalah pilihan yang dapat membantu Jokowi. 

Meskipun Jokowi adalah seorang Muslim yang taat, namun religiusitasnya tidak mencolok, dan ketaatannya dipertanyakan menjelang pemilu 2014. 

Dengan memilih Ma�ruf, Jokowi berharap untuk menangkal serangan berbasis agama dalam pilpres kali ini.

NEGARA MUSLIM TERBESAR DIDUNIA
Indonesia adalah negara mayoritas Muslim terbesar di dunia dan sekitar 90 persen warganya adalah Muslim Sunni. 

Indonesia bukan negara sekuler, tetapi telah mendefinisikan dirinya sejak kemerdekaan pascakolonial pada 1945 sebagai pluralis dan multi-agama. Indonesia diperintah selama tiga dekade, dari tahun 1965 hingga 1998, oleh orang kuat militer Soeharto, yang kediktatorannya masih memberikan bayang-bayang panjang dan gelap pada politik kontemporer Indonesia.

Di era pasca-Soeharto, demokrasi Indonesia telah berkembang seiring dengan kebangkitan agama, khususnya di antara kelompok-kelompok Muslim yang ditekan selama kediktatoran.

POPULIS AGAMA DAN POLITIK
Meskipun bukan hal baru bagi para politisi untuk meningkatkan kredibilitas dan kedudukan mereka dengan memamerkan keyakinan dan nilai-nilai Islam mereka, namun agama secara tidak lazim melatarbelakangi pemilu kali ini. 

Ini karena pemilihan umum terjadi setelah Pilgub Jakarta yang panas pada tahun 2017, ketika para fanatik Islam mengerahkan protes massa untuk menuntut penahanan Gubernur Jakarta yang beragama Kristen dan beretnis Tionghoa karena dituduh menghujat Islam serangan yang menyebabkan kekalahannya di tempat pemungutan suara.

Meletusnya Islam garis keras populis pada tahun 2016 dan 2017 tampaknya mengejutkan Jokowi, dan ia dengan cepat menyerah pada tuntutan untuk mengadili Ahok yang merupakan mantan sekutunya. 

Dalam sebuah acara konsiliasi sebelumnya, Jokowi bahkan berdoa bersama para kritikus Islamisnya dalam unjuk rasa kedua mereka pada bulan Desember 2016. 
(Ma�ruf dan MUI secara aktif mendukung demonstrasi ini juga.)

Karena itu, agama adalah komponen penting bagi kampanye Jokowi dan saingannya, Prabowo. 

Sementara Jokowi mengadopsi strategi defensif dengan memilih tokoh konservatif terkemuka sebagai pasangannya, Prabowo menyelaraskan kampanyenya dengan kelompok garis keras akar rumput seperti Front Pembela Islam (FPI).

FPI dimulai pada akhir tahun 1990-an sebagai kelompok yang main hakim sendiri, melakukan penggerebekan moralitas di bar dan rumah bordil, tetapi dengan cepat menjadi kelompok arus utama pada tahun 2016, menjelang Pilgub Jakarta. 

Berbeda dengan politik jalanan FPI, MUI adalah badan semi-pemerintah yang awalnya diciptakan oleh Soeharto pada tahun 1975 dengan tujuan mendomestikasi badan-badan ulama.

Saya bisa melihat mengapa banyak orang progresif kecewa dengan pemilihan Jokowi atas Ma�ruf, mengingat catatan hak asasi manusianya.
Menurut pendapat saya, ini adalah pemilihan yang paling terpolarisasi�seperti Pilgub Jakarta tetapi nasional.
kata Ulil Abshar-Abdalla, 
(Seorang ulama Islam yang biasa menjalankan Jaringan Islam Liberal)

Di sisi lain, katanya, tidak secara inheren negatif bahwa agama terus memainkan peran besar dalam politik negara. 

Demokrasi akan berkembang dengan cara yang berbeda di sini daripada di Barat.
katanya, seraya mencatat bahwa banyak gerakan konservatif (seperti Salafisme dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS)) telah melunak dari waktu ke waktu.

Selain bersekutu dengan Ma�ruf, Jokowi mengadopsi berbagai pendekatan untuk merayu para pemilih religius. 

Tokoh-tokoh FPI terkemuka, misalnya, mendapatkan posisi di tim kampanyenya dan dalam pemerintahannya. 

Dan Jokowi juga melobi keras untuk mendapatkan dukungan organisasi massa Nahdlatul Ulama. 

Efeknya adalah bahwa kedua kandidat menunjukkan kredibilitas Muslim mereka, yang merupakan niat Jokowi.
Pendukung kandidat presiden Prabowo Subianto menghadiri rapat umum untuk deklarasi kemenangannya dalam pilpres 2019 di Jakarta, 19 April 2019. 
(Foto: Badan Andalou/ AFP/ Eko Siswono Toyudho)

Saya benar-benar berpikir bahwa Prabowo bermain-main dengan kelompok Islamis secara berlebihan.
Dia bisa menang jika dia berkampanye di bidang ekonomi. Tidak mungkin para Islamis yang taat akan memilih Jokowi, tetapi kaum moderat bisa saja terombang-ambing.
Yohanes Sulaiman, seorang akademisi keamanan di Universitas Jenderal Achmad Yani di Jakarta, mengatakan kepada saya.

Terlepas dari program pembangunan ekonomi yang Jokowi banggakan, pertumbuhan terus lamban. PDB Indonesia tumbuh pada tingkat tahunan hanya sekitar 5 persen pada kuartal terakhir, di bawah target 7 persen yang dijanjikan Jokowi pada tahun 2014. 

Jokowi membuat beberapa kemajuan terbatas dengan kebijakan seperti redistribusi tanah, tetapi ketidaksetaraan kekayaan negara terus bercokol, dan menjadi peringkat tertinggi keenam di dunia.

Dengan mendorong citra kerakyatan, Prabowo memang berbicara lebih keras tentang hal ini, menyalahkan kesalahan pada pelarian modal dan kekayaan yang tidak proporsional kepada para pengusaha etnis Tionghoa di Indonesia. 

Tetapi ini adalah poin pembicaraan yang sama yang digunakannya pada tahun 2014 dan pesan ekonominya menarik beberapa pemilih baru tahun ini.

Meskipun Jokowi mampu mengalahkan lawannya sekali lagi dengan agenda kebutuhan sehari-hari, namun ia hanya melakukan sedikit untuk menenangkan para pendukung progresif yang kecewa yang berharap untuk kemajuan dalam hak asasi manusia selama kampanyenya pada tahun 2014. 

Masih belum ada kebenaran dan proses rekonsiliasi, misalnya, untuk mengatasi pembunuhan massal terhadap orang-orang yang dicurigai sebagai Komunis dan kiri pada tahun 1965, yang mengantar kediktatoran Soeharto; juga tidak ada pertanggungjawaban atas sekitar 10.000 orang Tionghoa dan aktivis mahasiswa yang tewas dalam kerusuhan yang menyebabkan penggulingan Soeharto pada tahun 1998.

Dua dekade setelah kepergian Soeharto, semua ini masih terus membayangi politik Indonesia. 

Memang, lawan Jokowi, Prabowo, menghabiskan lebih dari dua puluh tahun di ketentaraan dan terlibat dalam pendudukan Indonesia yang penuh kekerasan di Timor-Leste, dan dalam menghancurkan protes mahasiswa 1998. 

Namun lingkaran dalam Jokowi juga dipenuhi oleh para mantan jenderal seperti mantan kepala angkatan bersenjata, Wiranto, yang dituduh oleh PBB melakukan �kejahatan terhadap kemanusiaan� karena perannya di Timor-Leste.

Tetapi dengan latar belakang intoleransi agama sektarian yang menjamur selama masa jabatan pertamanya dan memuncak selama Pilgub Jakarta, sikap diam Jokowi mulai terlihat sebagai pengabaian. 

Selain kepasifannya atas sejarah pelanggaran hak asasi manusia, ia tampak optimis dengan serangkaian hukuman penistaan ??agama yang semakin absurd, serta ledakan retorika dan pemolisian anti-LGBTQ sejak tahun 2016.

Pemilihan ulang Jokowi sejauh ini tidak memiliki dampak signifikan terhadap hak asasi manusia.
Tuntutan saya untuk masa jabatan keduanya sama seperti biasa: untuk menuntut pelanggaran masa lalu berdasarkan undang-undang 2000 tentang hak asasi manusia.
kata Maria Sumarsih, seorang aktivis hak asasi manusia yang putranya terbunuh dalam kerusuhan mahasiswa tahun 1998.

Dia telah mengadakan protes mingguan untuk menuntut tindakan resmi terhadap pelanggaran hak asasi manusia di depan Istana Presiden selama sebelas tahun terakhir. 

Kerumunan ini lebih besar dari biasanya pada minggu lalu, katanya, di mana para pemilih yang kecewa golput dalam pemilu ini.

GAMBARAN PARTISIPASI DEMOKRASI TAHUN 2019
Bagaimanapun juga, partisipasi demokratis minggu lalu cukup tinggi. Tidak hanya ada 80 persen pemilih, tetapi hampir seperempat juta orang (hampir satu persen dari seluruh rakyat Indonesia) juga mencalonkan diri untuk jabatan. 

Meskipun pilpres mendominasi siklus berita, namun ada banyak pertarungan yang menarik.
Para petugas pemilu berpakaian seperti pahlawan super di Surabaya untuk mendorong para pemilih datang ke tempat pemungutan suara. 
(Foto: AFP/ Juni Kriswanto)

SRI VIRA CHANDRA POLITIS ISLAMI DAN NASIONALIS
Sri Vira Chandra, di daerah Kalibata, Jakarta Selatan pada pagi hari Pemilu. 

Dia adalah satu dari puluhan ribu warga negara yang telah diberdayakan oleh ekspansi demokrasi Indonesia selama dua dekade.

Dikenal sebagai Ummi bagi para pengikutnya, Sri Vira adalah seorang ustadzah Muslim dan aktivis konservatif; dia memperebutkan kursi di Dewan Kota Jakarta sebagai anggota Partai Keadilan Sejahtera (PKS). 

Sebagai seorang wanita Muslimah, saya tidak dapat memisahkan masalah wanita dari masalah keluarga.
Wanita lebih aman dalam keluarga, bahaya Westernisasi dan kebebasan. Kita memiliki budaya kita sendiri di Indonesia: itu adalah budaya agama, dan Timur.
kata Sri Vira

Konsepsi nilai-nilai keluarga Sri Vira termasuk kampanye aktif untuk mengkriminalkan homoseksualitas, yang telah digambarkan oleh lawan-lawannya sebagai budaya asing. 

Politiknya tidak masuk dalam kategori mudah: 
Dia adalah Islamis tetapi juga nasionalis, aktivis yang berfokus pada keluarga tetapi bukan feminis.

Dia mencalonkan diri untuk jabatan sebagian karena dia tidak melihat cukup banyak wanita seperti dia yang diwakili pada saat yang sama, ia skeptis terhadap sistem kuota di mana semua partai politik harus memiliki setidaknya 30 persen kandidat perempuan. 
Menurut saya, itu tergantung pada wanita.
Terkadang sulit menemukan (kandidat) wanita yang kredibel, mereka mungkin tidak memiliki latar belakang atau pengalaman.

Partainya (yang didirikan pada tahun 2002) meraih hampir 9 persen suara legislatif nasional tahun ini, naik dari sekitar 7 persen pada tahun 2014. Itu menjadikan PKS partai Islam paling sukses di Indonesia, tetapi yang juga penting adalah seberapa jauh PKS telah melunakkan pandangannya dalam 27 tahun keberadaannya. 

Apa yang tadinya menjadi tujuan utama PKS untuk menerapkan Syariah secara nasional?
Telah dikesampingkan sebaliknya, PKS secara eksplisit menganut pluralisme untuk mempertahankan daya tarik yang lebih luas bagi para pemilih.

JALALUDIN RAKHMAT LEGISLATOR SYIAH INDONESIA
Jalaluddin Rakhmat, satu-satunya legislator Syiah di Indonesia mengatakan:
Sekitar 99 persen Muslim Indonesia adalah Sunni dan sentimen anti-Syiah telah meningkat sejak tahun 1990-an. 
Jalaluddin belum yakin apakah ia telah memenangkan pemilu kembali di Dewan Perwakilan Rakyat, meskipun hitung cepat tampaknya menunjukkan bahwa ia telah menang.

Yang terbaik yang bisa kami katakan adalah, jika Jokowi menang dan sepertinya ia akan menang setidaknya keadaan tidak bertambah buruk.
Jika Prabowo menang, kita akan memiliki semacam monster. Saya tidak berpikir mayoritas orang Indonesia secara pribadi intoleran tetapi intoleransi agama berdampak pada minoritas dan dipertahankan oleh mayoritas.
kata Jalaluddin.

Jalaluddin tahu betul bahaya politik agama mayoritas untuk sebuah sekte minoritas di negara yang saleh.

Seperti kerusuhan anti-Syiah yang mematikan di Pulau Madura pada tahun 2012, dan kampanye nasional untuk mendeklarasikan Syiah sebagai sekte sesat yang dimulai tak lama setelah ia menjadi legislator pada tahun 2014.

Demokrasi harus mengakomodasi tidak hanya sejumlah besar masyarakat dan keragaman yang mencolok, tetapi juga para politisi yang terkadang bertingkah aneh. Ini bisa menjadi tantangan.

Pekan lalu, misalnya, Prabowo menghabiskan hari-hari setelah pemilu mengklaim kemenangan, bahkan setelah Sandiaga Uno tidak tampil di depan publik, mengatakan bahwa ia terserang �cegukan�.

Selain itu, masyarakat Indonesia juga menanggapi:
Mereka mengangkat bahu, membuat lelucon online, dan bergerak melupakannya. 
Indonesia Maju juga bisa berarti bahwa Indonesia akan terus melangkah atau berprogres bahwa Indonesia akan terus bergerak.

Saksi Perpecahan Agama dan Etnis di Indonesia
Fakta yang tidak boleh luput dari perhatian tentang hasil Pilpres 2019 adalah, bagaimana perolehan suara mencerminkan perpecahan agama dan etnis yang tengah terjadi di Indonesia. Aksi memecah belah yang diprakarsai oleh kelompok Islam garis keras bisa dibilang berhasil jika melihat peta perolehan suara Jokowi vs Prabowo. Prabowo memenangkan perolehan besar di daerah dominasi Muslim dan konservatif, sedangkan perolehan Jokowi sangat besar di daerah dominasi non-Muslim dan Muslim Moderat.
Oleh: John McBeth (Asia Times)

Meskipun Presiden Joko �Jokowi� Widodo mendapat suara mayoritas lebih banyak daripada perolehan suaranya pada pilpres sebelumnya, pilpres 2019 ini telah menjadi saksi meluasnya perpecahan agama dan etnis di Indonesia.

Pilpres 2019 telah menunjukkan polarisasi yang jauh lebih besar antara warga di pulau Jawa dengan minoritas di Indonesia bagian timur, dan antara warga Jawa Barat yang mayoritas religius dan warga di pulau-pulau yang didominasi Muslim di Sumatra, Sulawesi, dan Kalimantan.

Prabowo tampaknya telah menang di 18 dari 34 provinsi, namun malang, sebagian besar provinsi-provinsi itu berada di daerah yang berpenduduk sedikit dan volume suaranya tak cukup untuk mengungguli perolehan suara Jokowi di provinsi-provinsi padat penduduk. Tentu, tanpa suara mayoritas dari Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Yogyakarta, Jokowi mungkin tak akan unggul mengingat bahwa ia kesulitan memperoleh suara di pulau-pulau terpencil.
Presiden Indonesia Joko Widodo (tengah) tiba untuk konferensi pers setelah pilpres dan pileg pada 17 April 2019.
(Foto: AFP/ Goh Chai Hin)

Terlepas dari hasil quick count yang menunjukkan Jokowi menang dengan perbandingan 55-45 persen, Prabowo menegaskan bahwa lembaga-lembaga survei yang telah mengumpulkan suara telah memanipulasi angka-angka mereka dan bahwa surveinya sendiri menunjukkan dia unggul dengan perolehan suara lebih dari 60 persen.

Sedangkan Jokowi telah memutuskan untuk menunda klaim kemenangan sampai hasil resmi pilpres 2019 diumumkan KPU bulan Mei nanti.

Salah satu orang dalam mengatakan, penolakan Prabowo untuk menerima kekalahannya menyebabkan ia berselisih dengan pasangannya, Sandiaga Uno, yang absen di dua konferensi pers Prabowo setelah pilpres, dikabarkan karena cegukan.

Terdiam dan tak tersenyum, Sandiaga bergabung dengan Prabowo di konferensi persnya yang ketiga setelah menyebarnya desas-desus bahwa ia sedang menuju ke Amerika Serikat untuk menghindari kekacauan pascapemilu yang akan menodai citra dirinya.

Prabowo mungkin telah salah memperhitungkan kekuatan dukungan yang diterima Jokowi dari organisasi massa Muslim Nahdlatul Ulama (NU) setelah menggandeng Ma�ruf Amin sebagai wakil presidennya.

Bergabung dengan basis Partai PDI-P, NU yang berpengaruh di pesantren-pesantren di Jawa memainkan peran utama dalam memberikan presiden sebanyak 77 persen suara di Jawa Tengah dan 67 persen di Jawa Timur.

Menurut salah satu jajak pendapat, pengikut NU mendukung Jokowi sebesar 56 persen hingga 44 persen, jauh dari 43 persen hingga 42 persen pada tahun 2014 ketika organisasi yang beranggotakan 45 juta orang itu condong ke Prabowo, khususnya di Jawa Timur.
Persentase pilpres berdasarkan provinsi dengan 95,7 persen suara dihitung.
(Sumber: Jaringan CSIS/ Cyrus)

Tetapi walaupun Jokowi mengalahkan saingannya di sana, presiden gagal merebut mendukung Prabowo di Jawa Barat dan Banten.

Prabowo memenangkan 63 persen suara di suatu daerah yang dulunya merupakan rumah bagi gerakan pemberontak Darul Islam tersebut.

Meskipun lahir di Banten, kepercayaan konservatif Ma�ruf tidak mengayunkan dukungan Gerakan 212, koalisi Islam garis keras yang menjatuhkan Ahok (mantan sekutu Jokowi) dari kursi Gubernur, yang menimbulkan kekhawatiran luas tentang masa depan Indonesia sebagai negara sekuler.

Dampak dari lengsernya sekutu Jokowi jelas menentukan pemilihan.

Prabowo bukan seorang Muslim yang taat, tetapi ia menjadi titik temu bagi mereka yang melihat presiden sebagai �tidak Islami�.

Namun anehnya, Jokowi tetap mendapatkan kemenangan tipis di Jakarta, tempat dia telah diperkirakan kalah. Dalam hal ini, ia mungkin telah diselamatkan oleh program infrastrukturnya, termasuk sistem Mass Trail Transit (MRT) yang baru yang dibuka sebulan sebelum hari pemilu.

Selain Jawa Barat, Prabowo juga mendominasi di sebagian besar Sumatera, memenangkan 80-90 persen suara di kubu Islam Aceh dan Sumatra Barat, dan mengubah kerugian 44-55 persen pada tahun 2014 menjadi kemenangan sementara 50-49 persen.
Kandidat presiden Indonesia, Prabowo Subianto, berdoa untuk kampanye di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta, 7 April 2019. 
(Foto: AFP/ Andalou Agency/ Anton Raharjo)

Dia juga menggulung Riau, Jambi, Sumatra Selatan, dan Kepulauan Riau, banyak di antaranya provinsi di mana harga komoditas rendah telah mempengaruhi ekonomi perkebunan yang krusial.

Namun dia diperkirakan tidak mampu menang di Lampung, tempat tinggal lima juta transmigran Jawa pro-Jokowi.

Di Kalimantan, pulau terbesar di Indonesia, Jokowi menang di Kalimantan Utara, Timur dan Tengah, tetapi mengalami kekalahan mengejutkan lainnya di Kalimantan Barat, di mana sebagian besar orang Dayak Kristen merupakan 43 persen dari populasi, tetapi kalah jumlah oleh 2,5 juta umat Muslim.

Analis politik Andreas Harsono mengatakan semakin berkembangnya Front Pembela Islam (FPI) dan keputusan taktis oleh para pemimpin lokal Melayu untuk menjalin aliansi dengan para migran Madura telah bertanggung jawab atas perubahan lanskap politik.
Ini adalah titik kritis
Mencatat bahwa orang-orang Melayu sekarang merasa lebih bijaksana untuk menggunakan agama daripada etnisitas dalam menemukan tujuan bersama dengan orang Madura, yang kehilangan ribuan orang dalam peristiwa pembersihan etnis Dayak pada tahun 1999.

Beberapa perolehan terbesar Prabowo adalah di Sulawesi.

Di sana, di Sulawesi Selatan, pengaruh dari Wakil Presiden Jusuf Kalla menurun, partai pendukungnya, Partai Golkar, juga mundur, menyebabkan pendulum ideologis berayun dan meningkatkan suara Prabowo dari 28 persen menjadi 59 persen.

Kandidat oposisi juga menang di Sulawesi Tenggara dan Gorantalo, tetapi dalam tanda lain dari pergeseran nasional menuju polarisasi agama, para pemilih Sulawesi Utara yang didominasi Kristen meningkatkan dukungan mereka untuk Jokowi dari 53 persen menjadi 84 persen.
Seorang wanita Indonesia menunjukkan surat suara pemilu di TPS di Jakarta pada 17 April 2019. 
(Foto: AFP/ Adek Berry)

Kata Bara Hasibuan dari Partai Amanat Nasional (PAN) yang menentang partainya sendiri dan secara terbuka menyatakan dukungannya untuk Jokowi:
Saya telah mengira ini akan terjadi, Prabowo juga akan menerima risiko karena telah menyelaraskan dirinya dengan Gerakan 212. Ada banyak ketakutan di sini tentang negara syariah.

Prabowo juga membuat kesalahan dengan menjadwalkan rapat umum di Manado, ibukota Sulawesi Utara, di hari Minggu pagi ketika kebanyakan orang ke gereja.

Jokowi membatalkan rapat umum yang direncanakan seminggu kemudian dan sebagai gantinya bergabung dengan dua pertemuan Kristen, di mana ia diperlakukan seperti bintang rock.

Di seluruh Indonesia bagian timur, minoritas agama ternyata berbondong-bondong untuk mendukung presiden, memberinya kemenangan besar di pulau Bali (91 persen) dan di Nusa Tenggara Timur yang berpenduduk:

  • Kristen (86 persen), 
  • Maluku Utara (80 persen), 
  • Papua dan Papua Barat (70-72 persen).

(nb: margin jauh lebih besar dari tahun 2014).

Untuk melengkapi garis demarkasi agama, Prabowo menang dengan margin yang sama lebar di provinsi-provinsi Muslim dominan di Maluku (60 persen), dan Nusa Tenggara Barat (86 persen), rantai pulau di sebelah timur Bali yang meliputi Lombok dan Sumba.

Berapa lama Prabowo akan terus menolak mengakui kekalahannya masih belum jelas, tetapi ketidakbahagiaannya telah diperparah oleh fakta bahwa Gerindra tampaknya telah gagal untuk mengalahkan Golkar sebagai partai peringkat kedua.

Tidak seperti Prabowo, Sandi memiliki masa depan sebagai calon kandidat presiden pada 2024. Tetapi jika pasangan itu tidak dapat memperbaiki keadaan, akan ada keraguan apakah dia akan tinggal di Gerindra atau mencari partai lain untuk mengamankan masa depan politiknya.

Sebuah laporan baru-baru ini oleh pengawas Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) menunjukkan bahwa pengusaha kaya telah memberi $135 juta kepada Gerindra, termasuk $1,6 juta untuk kampanye Prabowo sendiri pada saat pencalonannya.
Kandidat presiden Indonesia Prabowo Subianto dan pasangan kandidat wakil presiden yang mendampinginya Sandiaga Uno memberi isyarat ketika menghadiri deklarasi perdamaian, untuk kampanye pemilihan umum mendatang, di Monumen Nasional di Jakarta, tanggal 23 September 2018. 
(Foto: AFP/ Adek Berry)

Hingga hari pemilu, Prabowo dan Sandi memiliki hubungan yang santai, sangat kontras dengan formalitas kaku antara Jokowi dan Ma�ruf. Tetapi sebagai pensiunan jenderal, Prabowo menuntut kesetiaan dan bereaksi buruk jika kesetiaan itu tidak ada.

Walaupun ia selalu memiliki temperamen kasar, mantan menteri keuangan dan penasihat ekonomi Rizal Ramli mengklaim Prabowo telah melunak dari waktu ke waktu dan bahkan memungkinkan orang untuk menyentuhnya saat kampanye, sesuatu yang ia benci sebelumnya.

Ketika dia menggebrak meja dan berteriak kepada seorang jurnalis muda Australia untuk tidak menguliahi dia tentang demokrasi selama wawancara baru-baru ini, dia langsung meminta maaf. Tapi sekarang, dia tidak meminta maaf (belum).
?????


Demikian artikel tentang Bagaimana Opini Politik Pilpres 2019 Didalam Pesta Demokrasi di Indonesia? ini dapat kami sampaikan, semoga artikel atau info tentang Bagaimana Opini Politik Pilpres 2019 Didalam Pesta Demokrasi di Indonesia? ini, dapat bermanfaat. Jangan lupa dibagikan juga ya! Terima kasih banyak atas kunjungan nya.

Sudut Pandang Bitter Coffer Park soal film dokumenter Sxy Killers

Info informasi Sudut Pandang Bitter Coffer Park soal film dokumenter Sxy Killers atau artikel tentang Sudut Pandang Bitter Coffer Park soal film dokumenter Sxy Killers ini semoga dapat bermanfaat, dan menambah wawasan. Selamat Membaca! Jangan lupa dishare juga! Jika merasa artikel ini bermanfaat juga untuk orang lain.
Hay Sahabat Bitter, kali ini Bitter Coffee Park akan mengajak Kalian Ngobrol ala Obrolan Warung Kopi tentang:
Sudut Pandang Bitter Coffer Park soal film dokumenter Sxy Killers 
Sxy Killers adalah sebuah film dokumenter yang sedang banyak diputar di beberapa kota di Indonesia. Film ini disutradarai oleh Dandhy Laksono dan digarap bersama tim Watchdog Indonesia.

Lewat film ini Dandhy dan Watchdog, lembaga yang didirikannya bersama Andhy Panca Kurniawan, menyampaikan cerita tentang apa yang dialami masyarakat sipil yang tinggal berdekatan dan berseberangan dengan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang ada di Kalimantan, Karimunjawa, Sulawesi dan Bali.

Di Kalimantan misalnya, di mana dulunya adalah suatu daerah dengan gunung yang subur dan hasil pertanian yang melimpah, kini setelah dibangun PLTU situasi menjadi amat berbeda. Masyarakat hidup dengan kesulitan air bersih, perlu jalan kaki dengan jarak sekitar 1,5 kilometer untuk mendapatkan air bersih.

Tentu saja ini sangat miris sekali, pihak pabrik tak mau bertangung jawab atas situasi tersebut, tanah bekas galian pun tak kunjung direklamasi. Hal yang lebih mengerikan lagi terdapat lubang galian batubara di belakang sekolah SD, dan tidak jarang anak-anak juga menjadi korban tenggelam akibat tanah galian yang berubah menjadi danau karena menjadi lokasi bermain anak-anak.

Dalam film tersebut dinyatakan terdapat 32 anak meninggal akibat bekas galian tambang yang tidak direklamasi sepanjang 2012 hingga 2013. Mirisnya lagi daerah tersebut dulunya dikenal sebagai salah satu lumbung padi nasional.

Setelah dari Kalimantan, tim Watchdog melali ke Karimunjawa. Berbeda dengan anggapan banyak orang, rupanya Karimunjawa tak hanya tempat untuk para turis. Terdapat PLTU terbesar di sana, yaitu PLTU Batang yang dibangun di atas tanah yang masih bersengketa.

Operasi PLTU terbesar di Asia tenggara ini telah mengganggu habitat ikan dan tumbuhan seperti kelapa. Seorang pencari ikan dan security dalam film tersebut mencoba membandingkan penghasilan yang didapatkan antara melaut dan bekerja di PLTU, ia menuturkan bahwa dalam sebulan melaut dapat mendapatkan penghasilan sekitar 13 juta sedangkan menjadi security di PLTU hanya mendapatkan 2,5 juta per bulan.

Perbedaan penghasilan yang berbeda drastis ini memang jadi satu poin, hanya saja pria dalam film tersebut menuturkan bahwa penghasilan melautnya semakin berkurang sejak dibangunnya PLTU Batang, jumlah ikan tangkapannya semakin sedikit karena dampak dari limbah pabrik.

Dalam kondisi seperti itu dapat ditebak jika dibiarkan terus-menerus maka akan terjadi kerusakan habitat laut yang juga akan membawa dampak pada para nelayan. Penghasilan mereka akan berkurang hingga memaksa berhenti dari melaut dan akhirnya bisa saja akan bekerja di PLTU atau pabrik lainnya. Melihat upah tenaga industri yang amat jauh dibandingkan penghasilan sebagai nelayan maka tentu saja kesejahteraan mereka justru menurun bahkan bisa jadi menjadi warga yang rentan terhadap kemiskinan.

Itu hanya sedikit fenomena yang ditampilkan dalam film tersebut, belum lagi jika melihat daerah lain maka akan lebih banyak lagi dijumpai masyarakat-masyarakat yang semakin tergusur oleh akibat adanya pembangunan. Menjadi hal yang perlu direnungkan bahwa pembangunan yang harusnya membawa dampak pada peningkatan kesejahteraan dan penurunan kemiskinan justru membuat rakyat semakin menderita.

Pembanguan ekonomi sudah selayaknya juga mempertimbangkan aspek kemanusiaan bukan hanya meningkatkan pendapatan negara. Jika hanya pendapatan negara yang dijadikan tolok ukur maka bisa saja dicapai dengan meningkatkan investasi dan menggenjot perdagangan, namun hal itu akan menjadi lebih komplek jika melihat apakah pendapatan negara yang meningkat sekian persen juga meningkatkan kesejahteraan seluruh lapisan masyarakat, disini sangat penting dilihat adalah pada masyarakat kelas menengah ke bawah yang rentang pada kemiskinan.

Seharusnya pembangunan bersifat alamiah dengan mengikuti kebutuhan masyarakat, hingga setiap daerah mempunyai tolok ukurnya masing-masing, karena bisa jadi bagi warga Jakarta dan beberapa kota besar lain membutuhkan jalan raya yang memadai dan transportasi cepat, namun diaerah lain seperti Papua yang dilihat warga belum mmerlukan jalan raya bebas hambatan maka tak perlulah kiranya jika pembangunan di fokuskan pada pembangunan jalan.

Pembangunan jalan di daerah kecil seharusnya bersikap hati-hati dan disesuaikan dengan kebutuhan. Tak heran karena pembangunan jalan misalnya yang berlebihan ditakutkan oleh beberapa kalangan hanya akan menguntungkan pihak pemodal untuk lebih mengeksploitasi sumber daya alam di pedalaman.

Seperti jelas ditampilkan dalam film Sexy Killers dimana para pemilik modal sangat bebas mengekploitasi alam yang juga didukung oleh negara (pemerintah) dengan dalih investasi. Meski investasi memang diperlukan untuk meningkatkan pendapatan negara, namun peran serta pemerintah untuk aktif mengatur percaturan investasi asing dalam pasar global amatlah dibutuhkan.

Seringkali terjadi pemerintah pusat ataupun daerah dengan mudanya memberi ijin pada para investor asing karena lebih menjanjikan dan lebih cepat membawa keuntungan dan dengan cepat pula meningkatkan pendapatan daerah, sehingga ijin seperti pertambangan dll menjadi sangat lentur hingga sering mengabaikan protes rakyat.

Tentu permasalahan ini saling berkelindan antara peran pemerintah dan perusahaan asing. Pemerintah dituntut ketegasannya pada investor asing sehingga kedaulatan bangsa dapat diselamatkan. Jika tidak maka bersiaplah pada fenomena kemiskinan, ketidakadilan, praktik KKN dan kejahatan lain yang akan terus menggeliat.

Sebagai seorang warga negara yang masuk dalam kelompok milenial, saya dan yang lain dibuat bingung, menjelang hari pencoblosan presiden dan calon presiden tanggal 17 April nanti, tak sedikit dari kita yang masih belum menentukan pilihan. Seperti saya, yang masih dibuat dilema karena kedua paslon disokong oleh bisnis tambang itu sendiri. Bagaimanapun jika memilih golput pada akhirnya juga tetap akan mempunyai presiden di antara kedua calon yang ada.

Bitter Coffee Park tidak bermaksud mengomentari pilihan golput, wajar saja golput ada dalam setiap pesta demokrasi. Lagi pula banyak alasan yang mendasari pilihan golput seperti tidak sempat pulang ke daerah asal pemilih dan belum mengurus A5, merasa ketidakcocokkan dari kandidat yang ada atau mempunyai gagasan lain dalam berbangsa. Bitter Coffee Park pun juga hampir mengikuti golongan putih ini, namun kembali Bitter Coffee Park urungkan.

Bitter Coffer Park masih merasa golput bukan pilihan yang tepat, jika tidak didukung oleh aksi selanjutnya yang memilki dampak pada kehidupan bernegara. Sebagai warga berbangsa dan menghadapi fenomea yang amat pelik akibat globalisasi, menurut Bitter Coffee Park yang terpenting saat ini adalah bersatunya semua elemen warga negara.

Sesungguhnya negara ini sedang dalam kondii yang genting, sehingga peran kita sebagai warga negara menjadi sangat penting. Masyarakat perlu mengawal jalannya pemerintahan dengan baik seperti, memerangi korupsi, ketidakadilan, dan kemiskinan. Hingga pada akhirnya jika saat pemilu hadir kita perlu menyadari tanggung jawab untuk mengawal jalannya roda kepemimpinan. Tidak apatis dan selalu bersuara adalah pilihan.
?????
Hay Friends Of Bitter, Bitter Coffee Park this Time will invite you in the stile of the chat coffe shops on:
The Move Sxykiller
Sxykiller, morir�s por ella (English: Sxy Killer: You'll Die for Her) is a 2008 Spanish comedy horror film directed by Miguel Mart� and written by Paco Cabezas. The film was released in Spain in October 2008.
A femme fatale fashionista at a trendy design school embarks on a brutal and bloody killing spree, while gleefully evading the hapless cops assigned to the murder cases.
?????


Demikian artikel tentang Sudut Pandang Bitter Coffer Park soal film dokumenter Sxy Killers ini dapat kami sampaikan, semoga artikel atau info tentang Sudut Pandang Bitter Coffer Park soal film dokumenter Sxy Killers ini, dapat bermanfaat. Jangan lupa dibagikan juga ya! Terima kasih banyak atas kunjungan nya.

Apa Rahasia Presiden Joko Widodo Yang Jarang Diketahui publik?

Info informasi Apa Rahasia Presiden Joko Widodo Yang Jarang Diketahui publik? atau artikel tentang Apa Rahasia Presiden Joko Widodo Yang Jarang Diketahui publik? ini semoga dapat bermanfaat, dan menambah wawasan. Selamat Membaca! Jangan lupa dishare juga! Jika merasa artikel ini bermanfaat juga untuk orang lain.
Hay Sahabat Bitter, kali ini Bitter Coffee Park akan mengajak Kalian Ngobrol ala Obrolan Warung Kopi tentang: 
Apa Rahasia Presiden Joko Widodo Yang Jarang Diketahui publik?
Kalau namanya rahasia ya harusnya tidak ada yang tahu. Mungkin maksudnya hal yang jarang diketahui publik ya. Mungkin ini:

Pertama
Jokowi punya pengawalan ke bawah yang kuat, dia berfikir anak buah kalau tidak diawasi kerjanya ga bener. 

Waktu di Solo, ada proyek Gapura Makutha yang lama selesainya, terkendala. 

Jokowi sering menginspeksi ke situ, dia bilang kalau perlu akan dia datangi tiap hari biar kerjanya bener. 

Prinsipnya dia dari atas mengawal, membantu jika ada kendala, mengawasi dan melecut biar kerjanya bagus.

Kedua
Mungkin ini pengaruh juga kepada kesuksesan 51% saham Freeport. 

Mafia Freeport entah diapakan di belakang layar, kok tahu-tahu lancar aja dapat 51%. 

Mungkin karena kawalan dari lini teratas jadi mafianya takut. 

Jokowi mengawal dan memperhatikan, kalau perlu menggerakkan pimpinan teratas TNI Polri jadi Mafia kalah beking. 

Tanpa metode dasar Jokowi yang mengawal dari lini teratas, mungkin belum bisa dapat 51%.

Ketiga
Yang lain yang Bitter Coffee Park ingat, gebrakan pertama Jokowi di Solo adalah pasar-pasar tradisional dirombak, renovasi. 

Jadi bagus bersih, saya jadi sering ikut ibu ke pasar dulu. 

Bitter Coffee Park masih anak sekolah waktu itu, asumsinya walikota ya cuma santai-santai terima gaji, ga ada perbedaan seperti halnya walikota-walikota sebelumnya. 

Ternyata Jokowi beda. Selain pasar, jalan utama Solo yakni Jalan Slamet Riyadi dibikinkan taman bagus. 

Bitter Coffee Park jadi berkesimpulan, bahwa ada toh pemimpin yang membuat perbedaan.

Keempat
Jokowi juga mampu memindahkan PKL Solo dengan damai. 

PKL ini biasanya susah diatur, ternyata kalau Jokowi yang minta pindah, mereka nurut dengan damai dan tertib. 

Karena Jokowi merangkul mereka, nguwongke (memanusiakan). 

Disediakan tempat jualan baru dan waktu pindahan diadakan pawai. 

Pedagang senang ikut pawai, banyak orang lihat, menambah popularitas lokasi baru jualan. 

Ini metode Jokowi, yang mungkin saat ini pun belum banyak ditiru untuk pengaturan PKL, biasanya cuma diusir sama Satpol PP tanpa ada bantuan atau solusi kan. 

Itu sejarah pertama ada PKL ditata yang tidak ngeyel dalam memori Bitter Coffee Park. 

Pengertiannya Jokowi kepada rakyat bawah memang beda.

Kelima
Ini mungkin kapasitas yang membuat dia saat jadi presiden menggebrak paradigma �ganti rugi� diganti dengan �ganti untung�. 

Dari dulu punya presiden, kenapa baru Jokowi yang menggebrak hal ini? 

Logikanya kan sebenarnya sederhana, warga terusir karena proyek pemerintah, sudah sepatutnya mendapat harga yang bagus, diatas pasaran. Hadiah hiburan lah ibaratnya. Manusiawi gitu. 

Tidak 100% menyelesaikan masalah, tapi sebuah langkah yang benar. 

Standar baru keadilan sosial lah (dalam aspek tsb).

Keenam
Yang lain, Jokowi bukan orang ambisius. 

Niat awalnya cuma mengabdi sama warga Solo, gaji tidak diambil. 

Dia maju gubernur Jakarta bukan Jokowi yang minta, tapi dari partai dari Jakarta. 

Waktu pindah masih 1,5 tahun jabatan walikota, ditangisi sama mbah-mbah pasar. 

Bitter Coffee Park juga tidak rela sebenarnya, waktu itu Bitter Coffee Park bilang: 
Ngapain jadi gubernur Jakarta, mending jadi presiden sekalian biar Bitter Coffee Park ikut menikmati. Kalau cuma jadi gubernur Jakarta, Bitter Coffee Park dan orang Solo tidak ikut menikmati.

Jadi capres pun partai juga yang minta. Bitter Coffee Park ya setuju biar Bitter Coffee Park ikut menikmati gayanya gitu.
?????


Demikian artikel tentang Apa Rahasia Presiden Joko Widodo Yang Jarang Diketahui publik? ini dapat kami sampaikan, semoga artikel atau info tentang Apa Rahasia Presiden Joko Widodo Yang Jarang Diketahui publik? ini, dapat bermanfaat. Jangan lupa dibagikan juga ya! Terima kasih banyak atas kunjungan nya.